Bismillahir-Rahmaanir-Rahim
... April 1984.. Menjelang Ujian Akhir SMP...
Gempa hebat melanda keluargaku, dan telah memporak-porandakan bangunan hatiku. Allahu Robbi, kenapa Bapak tega melakukan semua ini? Tak tega melihat ibu yang diam mematung dengan air mata berlelehan. Sementara Pak Jono, Pak Dodi, teman sekantor Bapak menjelaskan dengan bahasa yang dibuat sehalus mungkin. Aku mengintip takut-takut dari lubang kunci, raut wajah Ibu yang tiba-tiba menegang, lalu air matanya tumpah bak banjir bandang.
Bapak dipecat, karena menyelewengkan
dana kantor dan terbukti melakukan tindakan asusila dengan rekan wanitanya di
kantor. Bahkan, wanita itu telah diberinya rumah di Kecamatan Pare, tiga puluh
kilometer dari rumah kami. Bapak dipenjara atas tuduhan korupsi dan
berselingkuh dengan istri orang. Aku tahu, bukan sekali ini saja Bapak
mengkhianati Ibu. Sebagai anak tertua aku sudah bisa membaca hubungan kedua
orang tuaku. Namun baru kali ini aku melihat Ibu begitu terpukul. Tentu, dengan
dipecatnya Bapak, berarti asap tak akan mengepul lagi di tungku keluarga kami.
Sementara lima orang anak perempuan
setiap hari membutuhkan jatah nasi yang tidak sedikit. Melihat Ibu bermuram
durja, semangat belajarku hilang seketika.
Mei 1984Ujian Akhir, 03.00 Pagi...
Suara lantunan ayat-ayat suci
membangunkanku dari lelap. Ibu! Begitu biasanya beliau membangunkan kami untuk
shalat lail. Segera kutepuk Tini untuk menyusul Ibu. Mata adikku masih memerah
menahan kantuk. Tapi kusemangati dia, “Ayo, katanya ingin berdoa, Tini ingin
minta apa?” Malam begini dingin menyambut kami di kamar mandi. Air terasa
seperti butiran es. Kuusap mataku dan mata Tini sambil tersenyum, sekejap
kemudian kesegaran mengaliri seluruh tubuh. Lenyap sudah kantuk yang memberati
mata.
Ibu menyambut kami dengan senyum,
tapi…. Matanya begitu sembab, pasti Ibu habis menangis. “Mana adik-adikmu yang
lain, Nduk?” kami saling berpandangan, lalu menggeleng dan tersenyum malu.
Habis, sulit sekali membangunkan Lastri dan Tinah, bisa ditendang aku nanti,
maklum, mereka masih kecil. Usai tahajud, aku terus mengambil buku dan belajar.
Ibu menemani sambil meneruskan tadarus Qur’an-nya. Ibu…. Bagaimana orang sealim
Ibu bisa mendapatkan orang seperti Bapak. Ah, ngelantur aku ini, kalau tidak
ada Bapak, berarti aku juga tidak ada.
Akhir Mei 1984 ..
Akhirnya, selesai sudah ujian
akhirku. Alhamdulillah leganya. Setidaknya aku mulai bisa memikirkan yang lain
untuk membantu mengurangi beban Ibu. Yah, mau bagaimana lagi, Ibu memutuskan
menjual sebagian tanah warisannya untuk menebus Bapak dari penjara. “Bagaimana
pun dia bapakmu, Wuk, sejahat dan sebejat apa pun kelakuannya, darahnya lah
yang mengalir di tubuhmu.”
Aku juga tak tahu musti harus bagaimana.
Rasanya kaget tiba-tiba ikut terlibat dalam permasalahan rumit ini. Tapi Ibu
butuh teman bicara. Dan aku, anak sulungnyalah yang bisa melakukan itu. Ya,
mesti cuman sebatas mendengarkan. Menanti Bapak pulang seperti menunggu
datangnya makhluk asing dari planet lain. Ada rindu, ada benci, ada juga rasa
asing yang tak bisa kumengerti. Entahlah, dari dulu kami memang tak bisa dekat.
Bapak menginginkan anak laki-laki, sementara kelima anaknya perempuan.
Barangkali itulah yang membuat sulit sekali diajak bermanja.
Suatu sore, saat matahari senja
merah saga memenuhi langit, Bapak benar-benar pulang. Sosoknya yang tinggi
besar memenuhi pintu rumah. Dan Ibu menyambutnya seperti biasa, dengan mencium
tangan Bapak, dan menyuruh kami melakukan hal yang sama. Tanpa beban, seolah
tak terjadi apa pun yang pernah mengguncang keluarga kami. Kucari dendam di
mata Ibu, tapi ya Rabbi, mata itu begitu ikhlas dan tabah. Sementara hatiku
sudah mulai tertorehi luka.
Agustus 1984 ..
Perekonomian keluarga kami benar-benar
terpuruk. Aku tak bisa melanjutkan sekolah. Jangankan untuk mendaftar SMA,
untuk makan sehari-hari pun mulai kesulitan. Bapak berpamitan untuk mencari
kerja di Bogor. Memang di kota kecil seperti Kediri, mencari pekerjaan baru
bukanlah hal mudah, apalagi untuk orang yang namanya sudah cacat seperti Bapak.
Ibu mengambil alih perekonomian dengan membuka warung pecel di depan rumah.
Pagi buta sampai siang, Ibu mengurus warung pecelnya. Sore hingga malam membuat
krecek, makanan ringan dari irisan singkong kering yang digoreng dan dibumbuhi
gula merah serta cabai. Aku membantu Ibu sekuatnya. Aku punya kewajiban moral
untuk membantunya, kalau bukan aku, siapa lagi?
Bangun pukul empat pagi, kini tak
terasa dingin lagi. Sepagi itu aku dan Ibu mulai ke pasar. Tiba di rumah, kami
berbagi tugas. Aku mencuci baju, Tini membersihkan rumah. Setelah beres, kami
membantu Ibu menyiangi sayuran. Ketika adik-adikku berangkat sekolah aku mulai
menyiapkan potongan-potongan singkong untuk digoreng. Bila malam tiba, sambil mengajari
mereka, aku dan Ibu membungkus krecek ke dalam plastik agar esok pagi bisa
kuedarkan ke warung-warung dan pasar Kandat.
Ya Allah, Pengatur nasib umat, aku
sangat bangga pada Ibu. Di tengah himpitan ini beliau masih terus berkhusnudzan
kepada-Mu, terus mengajari kami bersabar, dan terus membimbing kami dengan
cintanya. Ya Allah, berikanlah segala kebaikan-Mu untuk Ibu dan kami
sekeluarga. Dan berilah kesadaran untuk Bapak, ya Allah, bahwa kami adalah
putri-putri yang juga mengharap cintanya. Amin.
Agustus 1986 ..
Bapak datang. Datang! Setelah sekian
lama tanpa kabar dan kiriman apa pun. Datang dengan sederet tuntutan dan
pelecehan pada Ibu. Tuntutan atas kehadiran anak laki-laki yang tak mampu
dilahirkan Ibu. Dan satu pelecehan lagi yang membuat darahku berpacu ke
ubun-ubun, beliau mengaku sudah menikah di Bogor dan mempunyai seorang anak
laki-laki. Tuntutan untuk menjual sisa tanah, dengan alasan anak laki-laki
lebih berhak memperoleh daripada kami. Semua dikatakan Bapak saat kami
kesulitan untuk sekedar mengisi perut.
Entah keberanian apa yang membuatku
lancang kepada Bapak. Kupukul dan kucakar lelaki yang kusebut bapak itu
sehingga sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Ibu yang tersimpuh di atas
tubuhku dengan isak pelan, dan umpatan kasar Bapak, “Perempuan sialan,
perempuan pincang! Seperti ini kau didik anakmu? Huh, dari dulu aku memang malu
punya istri seperti kamu, dasar pincang!”
Kali ini giliran Ibu yang mendapat
tamparan Bapak. Sakit…. Sakit hatiku mendengar Ibu diumpat seperti itu. Kaki
Ibu memang tidak normal, terserang polio sedari kecil. Tapi bukan berarti ia
tidak sempurna mendidik kami. Sungguh ia satu-satunya wanita yang membetot
habis rasa cinta dan hormatku lebih dari apa pun. Satu lagi luka tertoreh.
Kupandang Bapak dengan mata menyala.
Biar….. biarlah Bu, Bapak mengambil tanah itu. Kita buktikan bahwa kita bisa
hidup tanpa bantuannya bila itu yang Bapak mau. Aku berjanji, aku bertekad,
akan kulakukan apa pun untuk Ibu dan adik-adikku.
Januari 1990 ..Rumah Makan Padang
“Siang Malam”, Gringsing, Kendal...
Aku membawa truk bermuatan kelapa
memasuki pelataran rumah makan. Sisa setengah perjalanan lagi menuju Jakarta.
Ahmad dan Pak Gono membuka mata. Dengan sopan aku menyilahkan mereka untuk
beristirahat. Sementara aku harus berburu waktu mencari musholla, shalat Isya’.
Celana hitam, jaket gombrang coklat, dan jilbab kaos hitam telah menyulapku
menjadi sosok yang cukup dikenal di rumah makan ini. Pemiliknya Pak Haji Yassin
juga kenal denganku. Karena itu aku memilih tempat ini sebagai tempat
istrirahat bila nyopir ke arah barat.
Selain lingkungannya apik, baik,
juga ada musholla yang nyaman tempat aku istirahat sejenak. Sesekali bahkan Bu
Haji menyuruhku istirahat di ruang belakang mereka. Sementara aku istirahat,
Ahmad biasa mencuci kaca depan truk, mengisi air radiator, mengecek mesin, dan
ban, serta tak lupa menyiapkan sebotol kecil kopi hangat di samping jok untuk
persiapan nanti.
Truk ini milik Pak Jono, teman
Bapak. Aku yang dipercaya mengelolanya dengan sistem sewa. Dulu, hampir tiap
hari aku keluar masuk desa untuk menawarkan jasa transportasi ini. Kini tinggal
memetik hasilnya. Para petani dan pedaganglah yang datang apabila membutuhkan
truk sekaligus sopirnya. Aku tak pernah bercita-cita menjadi seorang sopir. Tidak,
tidak karena itu dunia laki-laki yang keras dan penuh bahaya. Tapi aku tak
punya pilihan lain. Hanya pekerjaan ini yang bisa menghasilkan uang paling
banyak. Sekali nyopir aku bisa mengantongi uang lima puluh ribu sampai seratus
ribu.
Bahkan bila musim panen, aku bisa
memegang hingga satu juta rupiah sebulan. Alhamdulillah. Karena selain
menyopir, aku juga memasok beberapa komoditi pasar seperti kelapa, pisang,
semangka ke beberapa kota sekeliling Kediri. Tentu, dengan bagi hasil dengan
Pak Jono.
Ibu terus berjualan pecel dan
membuat krecek. Kini hanya dibantu Sundari karena Sutini dan Sulastri sudah
kuliah di Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Sedang Partinah memilih ke
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Bahagia rasanya melihat mereka terus
sekolah, lebih bahagia karena mereka tak pernah mengecewakan lelehan
keringatku. Mereka belajar keras, bahkan sangat keras untuk membahagiakan Ibu
dan kakaknya yang sopir truk ini.
Sekali waktu, Tini pernah marah
padaku, ia minta diijinkan bekerja untuk ikut membantu ekonomi keluarga. Tapi
adikku itu mengkeret begitu melihatku memandang tajam ke arahnya. Adikku….
Maafkan Mbak Tiwuk. Biar Mbak Tiwuk saja yang berkorban, satu saja! Kalian
semua jadilah manusia yang berhasil. Dengan lulus UMPTN, dengan kuliah yang
benar, dengan cepat lulus, itu sudah cukup membantu Mbak Tiwuk. Sudah membuat
Mbak bahagia. Jangan pikirkan yang lain. Doa Mbak untuk kalian semua.
Juli 1993 ..Rumah Makan “Ayem
Tentrem”, Pelabuhan Ketapang...
Sudah larut malam ketika aku beristirahat,
menunggu kapal yang akan berangkat ke Pulau Bali. Ini rute pertamaku. Agak
gamang juga. Tapi Ahmad, kenekku meyakinkan bahwa ia pernah ke Denpasar
sebelumnya, jadi aku tak perlu khawatir tersesat. Deretan truk terparkir dalam
keremangan pelabuhan. Aku turun, mencari musholla dan tempat nyaman untuk
menyantap rantang makanan bekal dari Ibu.
Menjelang pukul dua, kudengar
keributan di sekitar trukku. Ahmad berteriak-teriak, aku tertegun. Segerombolan
preman tengah merubungnya. Tukang palak rupanya. Sementara Pak Sabar, pemilik
kayu gelondongan yang kuangkut tergigil pucat pasi di sisi truk. Pemalakan
tidak tanggung-tanggung karena kami orang baru, diharuskan membayar biaya
keamanan sebesar seratus ribu. Sejenak mereka melongo begitu tahu sopirnya
wanita. Tapi tak pernah kugunakan sebutan itu untuk bersikap lemah, terlebih
ini menyangkut hak untuk mencari penghidupan halal, hakasasi setiap umat untuk
meneruskan hidupnya.
Setelah gertakan untuk melapor
polisi tak ditanggapi, terpaksa kuladeni tantangannya. Ahmad satu tingkat di
bawahku di perguruan Perisai Diri. Jadi aku bisa mengandalkannya. Seratus ribu
bukan jumlah yang sedikit. Apalagi Sulastri membutuhkan biaya untuk
praktikumnya. Perkelahian berjalan tak seimbang, dua lawan tujuh. Kami bertarung
sengit, tiga orang berhasil kami buat jatuh, seorang yang bertindak sebagai
pemimpinnya berbuat nekad, saat tendangan kaki kiriku ku arahkan ke si brewok,
ia menohok dari samping. Cras… kaki berbalut sepatu kets-ku berlumuran darah.
Perih, darah keluar dengan deras. Aku masih bisa menangkis dua, tiga serangan,
setelah itu gelap.
Saat sadar aku telah berada dalam
salah satu bangsal di RSU Banyuwangi. Menurut dokter, setelah sembuh nanti
kemungkinan aku akan mengalami sedikit pincang. Sejumlah memar juga menghiasi
leher dan punggung. Rupanya saat aku sudah jatuh mereka masih menendangiku.
Untunglah Pak Sabar datang tepat pada waktunya dengan dua orang polisi
pelabuhan. Aku bersyukur karena Ahmad dan Pak Sabar tak terluka. Ah, peristiwa
pahit. Tapi tak akan melemahkan semangatku untuk terus mencari nafkah, karena
lima bulan lagi Sundari lulus SMA.
Februari 1995 ..
Kutuntun Ibu ke dalam ruangan penuh
spanduk dan karangan bunga. Subhanallah, matahari pagi dipucuk-pucuk pinisium
ikut tersenyum memandang kami. Hari ini Sutini disumpah menjadi seorang dokter.
Map hitam berlogo almamater diserahkan kepada Ibu dan aku sambil menahan
tangis. “Ini….Untuk Ibu dan Mbak Tiwuk. “Kupeluk adikku, kuusap keningnya.
“Seandainya setiap kakak di dunia
ini seperti Mbak Tiwuk…..,” ujarnya dengan mata basah. “Seandainya semua adik
di dunia seperti kalian, tidak akan ragu seorang kakak melakukan apa pun,” kami
berpelukan, kurengkuh bahu adikku, Tini yang bulan depan akan mengakhiri masa
lajangnya, disunting oleh teman seangkatan, pemuda soleh yang bulan kemarin
bersama keluarganya mengkhitbah Tini di rumah kecil kami. Jemputlah masa
depanmu Adikku….Mbak Tiwuk ikhlas kau langkahi.
Mei 1997 ..Rumah Makan
“Baranangsiang” , Bogor...
Menyebut kota ini menimbulkan luka
lagi yang menganga, Bapak….. pelan ku eja namanya. Nama laki-laki yang
seharusnya menanggung beban di atas pundakku. Pernikahan Tini kemarin beliau
hadir, juga saat Tinah diakadkan. Semanis apa pun wajah kupasangkan, tak bisa
membangun jembatan kemesraan anak beranak di antara kami. Hati ini terlanjur
sakit.
Pada saat kupandang wajah Ibu, masih
dengan tulus yang sama menyambut kepulangan Bapak. Alangkah luas telaga maafmu,
Ibu. Sementara hanya setitik hormat yang masih ku punya. Menurut berita yang
kudengar, usaha Bapak di Bogor maju pesat, dengan seorang istri dan dua anak
laki-laki yang diidamkannya. Syukurlah jika Bapak bahagia. Semoga waktu akan
mengurai kebekuan hati ini hingga terbentuk maaf yang tulus untuknya. Karena
aku tak mau selamanya jadi anak durhaka. Bukankah Allah telah begitu adil
dengan apa yang telah kami terima selama ini? Sungguh aku bersyukur…
Mei 2000 ..
Rumah berdinding setengah bata
setengah bambu kami terasa bertambah tua, atap dapur bahkan nyaris doyong.
Seperti juga kerut pada Ibu, juga wajahnya yang makin mengental. Jika ada
kesempatan untuk bernafas, inilah saatnya. Keempat adikku sudah mentas semua.
Tinggal Sundari, itu pun sudah hampir mandiri, karena selain menyelesaikan S2,
ia juga mengajar di sebuah yayasan.
Kini perhatianku beralih ke Ibu. Ibu
yang membesarkan kami dengan kedua tangannya!, dengan kakinya yang terseok,
yang selalu membentengi kami melalui doa yang rutin dipanjatkan di setiap
malam, melalui puasa Senin-Kamis, dengan keprihatinannya, juga dengan sabar dan
cintanya.
“Wuk, bisa nggak ya niat Ibu
kesampaian. Ibu ingin sekali melihat Baitullah.” Satu kata itulah yang menjadi
perhatianku kini. Maka, ketika Tini, Tinah, dan Lastri menawarkan diri untuk
merenovasi rumah, kalimat itu kuulang pada ketiga adikku. Dengan sisa tabungan
dan sumbangan mereka, aku berharap bisa memenuhi permintaan Ibu.
Juli 2000 ..
“Dunia begitu indah karena kami
memiliki kakak seperti engkau. Terimakasih, Mbak….” Kueja kalimat itu berulang.
Sebuah cincin bermata berlian menyertai kertas itu. Ah, aku lupa, hari ini aku
berulang tahun. Aku memang selalu lupa dan tak pernah memikirkannya. Setitik
air membasahi pipi, sudah berapa lama aku tidak menangis? Kucium kertas itu.
Adik-adikku, dunia pun sangat indah karena aku memiliki kalian, juga Ibu.
Terima kasih ya Alah.
Februari 2001 ..Garuda Indonesia,
Boeing 737, Jamaah Haji Kloter 12...
Pada Allah semua tujuan hidup
bermuara. Tak pernah kubenci dan kusesali hidupku. Karena aku telah memandang
semuanya dengan syukur dan karenanya sepahit apa pun kenyataan akan tetap
terasa indah. Inna ma’al ‘usri yusro, sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada
kemudahan. Allah akan memberi kemudahan itu pada setiap hambanya yang sabar.
Sering aku tak percaya bisa
melakukan semua ini, karena tugas itu nyaris usai. Allah Yang Maha Pemurah,
telah memberiku kesempatan hidup lebih panjang dari yang divonis dokter. Gadis
dengan cacat jantung bawaan seperti aku……rasanya tak percaya. Allah, jika
Engkau ijinkan, berilah hamba waktu lagi minimal untuk bisa berjumpa dengan
Bapak, agar kebekuan ini mencair. Untuk sebuah kata maaf yang belum pernah bisa
kukeluarkan, karena aku, Tiwuk Hartati, pernah mempunyai doa yang sangat jelek
untuknya. Biarlah maaf itu tumbuh seperti sejuta telaga kasih milik Ibu.
Awan putih menyembul di balik kaca,
berarak meniupkan simponi syahdu. Seolah aku sedang duduk di antaranya, membaca
tanpa gerak bibir, bahasa yang santun dan dewasa, mengantarku dalam kedalaman
rasa tiada tara. Ibu memejamkan mata di seat sebelah, tenang dan damai. Oh Ibu,
akhirnya penantianmu usai sudah. Lihatlah Bu, lihat awan itu. Ia akan mengantar
kita ke suatu tempat yang paling Ibu dambakan.
Kuusap lembut jemari kisut dan kasar
itu. Ibu…. Lelah guratan hidupmu, membayang pada raut wajah itu, tapi tak bisa
mengurangi keagungan cinta milikmu. Kukecup lembut dan kubawa tangan itu ke
atas dada. Di bandara tadi, harta-hartamu mengantar kepergian kita dengan haru:
Dokter Sutini, Dokter Sulastri, Insinyur Partinah, dan calon guru kita Sundari,
juga suami-suami mereka dan keponakanku yang lucu-lucu: Hanif, Asfa, dan Abdus.
Tawamu jernih dan tulus ketika
mencium mereka satu per satu, mutiara hidupmu. Wajah damaimu Ibu, adalah bentuk
kepasrahan seorang hamba dalam menjalani garis hidup Sang Pencipta, tanpa keluh
dan putus asa. Kepasrahan dalam ketegaran yang senantiasa yakin akan
pertolongan Khaliknya. Kurasakan burung besi ini semakin meninggi, memecah
udara, diiringi senyum hangat pramugari-pramugari anggun berbaju muslimah yang
menawarkan makanan. Kuambilkan satu untukmu, Ibu….
Garuda pun membelah angkasa menuju
Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Semakin jauh meninggalkan Jakarta,
meninggalkan Kediri. Dan satu harapan lagi, dengan izin-Mu akan terwujudkan.
Allah Maha Besar ...
~ o ~
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil
Hikmah-Nya ...



0 komentar:
Posting Komentar