Rabu, 08 Mei 2013

Pinokio

Sebuah kebohongan yang ditutupi akan muncul kepermukaan pada akhirnya.
Si pinokio begitu pandai untuk menyusun kata-kata atau si belalang yang begitu bodoh.
Tidak...dia tidak begitu bodoh katamu,,tapi...
ya...tapi, tapi sibelalang begitu saja termakan kata-kata sipinokio,,apalagi namanya.
Sekarang sipinokio berharap agar sibelalang kembali percaya padanya..
Namun sayang hidung sipinokio sudah terlalu panjang,

#Kepercayaan itu ibarat kertas, sekali kita remas ia tak akan kembali sempurna

Minggu, 05 Mei 2013

Tuhan dan Tukang Cukur



Suatu hari seorang laki-laki sebut saja Steve datang ke sebuah barber shop untuk memotong rambut dan jenggotnya. Ia pun memulai pembicaraan yang hangat dengan tukang cukur yang melayaninya. Berbagai macam topic pun akhirnya jadi pilihan mereka. Hingga akhirnya Tuhan menjadi subjek pembicaraan.
“Hai Tuan, saya ini tidak percaya kalau Tuhan itu ada, seperti yang anda katakan tadi,” ujar si Tukang Cukur
Mendengar ungkapan itu Steve terkejut dan bertanya.
“Mengapa anda berkata demikian?”
“Ya, jika tuhan itu ada, mengapa banyak orang yang sakit dan mengapa banyak anak-anak yang terlantar. Jika Tuhan itu ada tentu tidak ada sakit dan penderitaan, Tuhan apa yang mengijinkan semua itu terjadi,” ungkap si Tukanng Cukur dengan nada tinggi.
Steve pun berpikir tentang apa yang baru saja dikatakan sang Tukang Cukur. Namun ia sama sekali tidak memberi respon agar argumen tersebut tidak lebih meluas lagi. Saat Steve keluar dari Barber Shop tersebut. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang laki-laki berambut panjang dan jenggotnya sangat lebat. Sepertinya ia sudah lama tidak pergi ke tukang cukur dan itu membuatnya terlihat sangat tidak rapi. Akhirnya Steve kembali masuk ke dalam Barber Shop dan kemudian berkata kepada Sang Tukang Cukur.
“Ternyata di dunia ini tidak ada yang namanya Tukang Cukur.”
Otomatis Sang Tukang Cukur terkejut.
“Bagaimana mungkin mereka tidak ada tuan. Buktinya adalah saya. Saya ada di sini dan saya adalah seorang Tukang Cukur!” sanggah Si Tukang Cukur.
Dan Steve kembali berkata tegas.
“Kalau mereka ada tidak mungkin ada orang yang berambut panjang dan berjenggot lebat seperti bapak yang satu ini!”
“Ah, anda bisa saja Tuan. Tukang cukur itu selalu ada di mana-mana. Yang terjadi pada pria ini adalah bahwa ia tidak mau datang ke Barber Shop saya untuk di cukur,” jawab Si Tukang Cukur.
“Tepat!” tegas steve. “itulah poinnya, sebenarnya Tuhan itu ada! Yang terjadi pada umat manusia adalah mereka tidak mau datang dan mencarinya. Itulah sebabnya mengapa tampak begitu banyak penderitaan di seluruh dunia ini.”

#Kesimpulan
Kadang kita terlalu gampang mengambil kesimpulan dari sesuatu hal yang tidak kita pikirkan secara mendalam. Tukang cukur itu adalah diri kita juga yang kadang mereka menderita lalu mengatakan Tuhan tidak ada. Sementara, sesungguhnya kita tidak mengenal Tuhan dan mungkin kita tidak dekat denganNya.

Batu Besar



Seorang dosen memberi kuliah tentang manajemen waktu pada mahasiswa MBA. Dengan penuh semangat ia berdiri di depan class dan berkata.
“Ok Class, sekarang waktunya untuk kuis!”
Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong. Meletakkannya di meja dan mengisi ember tersebut dengan batu sebesar kepalan tangan. Ia mengisi terus sehingga tidak lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember. Dan ia bertanya kepada Class.
“Menurut kalian apakah ember ini telah penuh?”
Semua mahasiswa serentak berkata.
“Ya!!!”
Sang dosen bertanya kembali.
“Sungguhkah demikian?
Kemudian dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember. Lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu besar.
Kemudian sekali lagi ia bertanya kepada Class.
“Nah apakah sekarang ember ini sudah penuh?”
Kali ini para mahasiswa terdiam. Dan ada seorang mahasiswa yang menjawab.
“Mungkin tidak Proff,”
“Bagus sekali,” jawab dosen.
Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkan ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah kosong antara batu dan kerikil. Dan sekali lagi ia bertanya kepada Class.
“Baiklah, Apakah sekarang menurut kalian ember ini sudah penuh?”
“Belum,” sahut seluruh Class.
Dan dosen itu berkata.
“Bagus, bagus sekali!”
Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Dan ia kembali berkata.
“Kenyataan dari ilustrasi tadi mengajarkan kepada kita bahwa bila anda tidak memasukkan batu besar terlebih dahulu maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya. Batu besar dalam hidup anda adalah anak-anak anda, pasangan anda, pendidikan anda.”
“Hal-hal yang penting dalam hidup anda mengajarkan sesuatu pada anda. Melakukan pekerjaan yang anda cintai, waktu untuk diri sendiri, kesehatan anda, teman anda atau semua yang berharga.”
“Ingatlah untuk selalu memasukkan batu besar pertama kali atau anda kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil semacam kerikil atau pasir maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan. Dan ini semestinya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak pernah memiliki waktu untuk hal-hal besar dan penting.”

#Kesimpulan
Setiap pagi atau malam ketika anda merenungkan cerita pendek ini. Tanyalah pada diri anda apakah batu besar dalam hidup anda? Lalu kerjakanlah itu pertama kali.

Sabtu, 04 Mei 2013

Bincang


“Jangan menangis!” ucap bibir pada mata.
Sang tangan pun berusaha mengusap bulir yang keluar.
Telinga hanya diam mendengar.
“Salahkan otak, salahkan kalbu,” isak si mata.
Sementara otak mengelak, kalbu hanya tertawa.
“Kalian terlalu perasa!” teriak kalbu kemudian.
“Kamu yang membuat kami menjadi perasa.”
Sekali lagi, kalbu hanya tertawa..

Cinta sekecil kuku


Jangan mencintai seseorang setinggi langit
Karena langit bisa runtuh
Jangan cintai seseorang sedalam samudera
Karena samudera bisa surut
Jangan cintai seseorang sebesar dunia
Karena dunia bisa hancur
Cukup cintai seseorang seujung kuku,
Walau kecil, walau serlalu dipotong, ia akan selalu tumbuh

Quote Today


You say, you love rain
But you open your umbrella
You say, you love the sun
But you find a shadow spot
You say, you love the wind
But you close your window
This is why I am afraid
You say that you love me
-William Shakespear-