“Jangan menangis!” ucap bibir pada mata.
Sang tangan pun berusaha mengusap bulir yang keluar.
Telinga hanya diam mendengar.
“Salahkan otak, salahkan kalbu,” isak si mata.
Sementara otak mengelak, kalbu hanya tertawa.
“Kalian terlalu perasa!” teriak kalbu kemudian.
“Kamu yang membuat kami menjadi perasa.”
Sekali lagi, kalbu hanya tertawa..
Sabtu, 04 Mei 2013
Bincang
Diposting oleh Unknown di 22.32
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar