Sabtu, 04 Mei 2013

Bincang

Share this history on :


“Jangan menangis!” ucap bibir pada mata.
Sang tangan pun berusaha mengusap bulir yang keluar.
Telinga hanya diam mendengar.
“Salahkan otak, salahkan kalbu,” isak si mata.
Sementara otak mengelak, kalbu hanya tertawa.
“Kalian terlalu perasa!” teriak kalbu kemudian.
“Kamu yang membuat kami menjadi perasa.”
Sekali lagi, kalbu hanya tertawa..

0 komentar:

Posting Komentar