Bismillahirr
Rahmanirr Rahim ...
Salah
satu hal yang sering membuat energi kita terkuras adalah timbulnya rasa
ketersinggungan diri. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh ketidaktahanan
kita terhadap sikap orang lain.
Ketika
tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan selanjutnya akan
memikirkan kejelekan orang lain.
Efek
yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah,
kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan lainnya. Karena itu,
kegigihan kita untuk tidak tersinggung menjadi suatu keharusan.
Apa
yang menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan seseorang timbul karena
menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, baik, tampan, dan
merasa sukses.
Setiap
kali kita menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kita kurang
sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung akan terbuka jika
kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada sesuatu yang harus kita
perbaiki, yaitu proporsional menilai diri.
Teknik
pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada
diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa,
saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat.
Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan membuat kita makin
tersinggung.
Ada
beberapa cara yang cukup efektif untuk meredam ketersinggungan
Pertama,
belajar melupakan.
Jika
kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang
direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita pemuka agama lupakan kepemuka
agamaan kita.Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan
seterusnya.
Anggap
semuanya ini berkat dari Allah agar kita tidak tamak terhadap penghargaan. Kita
harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa
kecuali berkat ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit.
Kita
lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun kecuali
sepercik titipan berkat dari Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun
kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah telah berikan dan
dipertanggung jawabkan. Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih
ringan. Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering
kita sakit hati.
Kedua,
kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan
bermanfaat jika kita dapat menyikapinya dengan tepat.
Kita
tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika bisa
menyikapinya dengan tepat. Kita akan merugi apabila salah menyikapi kejadian
dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan
keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memaksa diri sendiri menyikapi orang
lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain kepada kita, tentu
itu terjadi dengan izin Allah. Anggap saja ini episode atau ujian yang harus
kita alami untuk menguji keimanan kita.
Ketiga,
kita harus berempati.
Yaitu,
mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah seseorang yang
tengah menuntun gajah dari depan dan seorang lagi mengikutinya di belakang
Gajah tersebut.
Yang
di depan berkata, "Oh indah nian pemandangan sepanjang hari". Kontan
ia didorong dan dilempar dari belakang karena dianggap menyindir. Sebab,
sepanjang perjalanan, orang yang di belakang hanya melihat MAAF pantat gajah.
Karena
itu, kita harus belajar berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung cari
seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Namun yang harus diingat,
berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan untuk
membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.
Keempat,
jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai ladang peningkatan kwalitas diri
dan ingatkan pada diri kita bahwa kita harus memaafkan orang yang menyakiti dan
membalasnya dengan kebaikan .
Sumber:
Penyejuk Jiwa dengan sedikit di edit
Semoga
Bermanfaat ...




0 komentar:
Posting Komentar