main |
sidebar
Diposting oleh
Unknown
di
16.20

Bismillaahirrahmaanirrahiim.Assalamu
'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Dear Sahabat,,,
Buat semua yang
telah menjadi orang tua dan atau calon orang tua. Ingatlah, semarah apapun,
janganlah kita bertindak berlebihan. Sebagai orang tua, kita patut untuk saling
menjaga perbuatan kita especially pada anak anak yang masih kecil karena mereka
masih belum tahu apa apa.
Begini Kisahnya...
Sepasang suami
isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh
pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik
berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan
pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan
di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di
halaman rumahnya.
Suatu hari dia
melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya
diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak
kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna
gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan
sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan
ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah
kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil.
Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan
lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh
si pembantu rumah.
Saat pulang
petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun
dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum
lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!”
Pembantu rumah
yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar.
Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi
diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan, "Saya tidak
tahu..tuan.""Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?”
hardik si isteri lagi.
Si anak yang
mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh
manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya
sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang
kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus
dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa
apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan,
si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan
saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah
terbengong, tidak tahu harus berbuat apa. Si ayah cukup lama memukul-mukul
tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke
rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu,
membawanya ke kamar.Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan
si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu.
Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga
menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu
rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur
bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak.
Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja,
dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar
pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu,
si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski
setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya
ringkas. “Kasih minum panadol aja….(iklan..) ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu
masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita
dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari
keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu
panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap." kata
majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.
Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah
serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak
itu."Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar
kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. "Ini
sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong
dari siku ke bawah" kata dokter itu.
Si bapak dan ibu
bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti
berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.Si ibu meraung merangkul si anak.
Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya
menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas
obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga
keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan
ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka
semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan
air mata.
"Ayah.. ibu…
Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau
jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu." katanya berulang kali
membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok
Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita
itu meraung histeris.
"Ayah..
kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tdk akan mengulanginya
lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain
nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi." katanya berulang-ulang.
Serasa copot
jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun
takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi
bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan
dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah
minta maaf.
Ulasan:
Sahabat,,,Penerapan
pola pendidikan pada anak memang wajib dilakukan. Namun tidak berarti harus dengan
menggunakan cara kekerasan. Orang tua juga wajib mengetahui batasan batasan
untuk "mengajar" tersebut.
Pemberian hukuman
untuk anak tentu tidak sama. Orang tua harus memahami, berapa umur anak, apa
jenis kelamin anak, dan jenis hukuman apa yang sesuai untuknya. Karena pada
dasarnya hukuman yang diterapkan bertujuan untuk memperbaiki tabiat dan
kesalahan kesalahan anak sebelumnya, membangun dan meningkatkan rasa hormat,
kedekatan serta ketaatan anak pada orang tuanya.
Dengan pola yang
pas dan tepat, orang tua dapat membangun kedekatan emosional dengan buah
hatinya, sehingga dengan sendirinya anak akan lebih terbuka akan masalahnya.
Ini yang secara tidak langsung telah membuat anak memagari diri mereka terhadap
pengaruh pengaruh negatif dari lingkungan luar.
Pola pengasuhan,
dan pemberian hukuman yang cerdas, juga berpotensi merangsang dan meningkatkan
kreativitas anak. Bakat bakatnya pun juga akan terkeluarkan dengan sempurna.
Ini terjadi, karena hukuman yang diberikan lebih mengajarkan anak untuk berfikir
terhadap sebab dan akibat dari kesalahan yang dilakukannya sebelumnya.
Sehingga, anak cenderung untuk tidak melakukan kesalahan serupa.
Mengapa demikian?
Karena anak yang
masih kecil memiliki naluri meniru yang kuat, sifatnya yang polos juga cenderung
untuk lebih jujur akan isi hatinya. Perangainya yang menggemaskan pun juga
dapat menggambarkan, bakat apa yang sesungguhnya ia miliki. Inilah yang harus
diketahui oleh para orang tua, dan para calon orang tua.
Kembali pada kasus
di atas...
Pola pengajaran
yang salah, di samping merugikan anak juga akan memberikan kerugian bagi orang
tua itu sendiri. Orang tua secara tidak langsung telah membangun rasa
kekecewaan pada anak, rasa ketakutan akan mendapat kekerasan serupa, dan
cenderung mencari pihak pihak lain untuk mengungkapkan isi hatinya. Ini yang
harus diwaspadai.Karena bukan tidak mungkin, bahwa anak akan salah dalam
mengungkapkan ekspresinya.
Dan khusus pada
kasus di atas, orang tua telah sangat sangat di ambang kerugian, karena mereka
telah kehilangan salah satu aset terpenting bagi kehidupan mereka saat ini, dan
nanti. Kerugian saat ini adalah, orang tua harus membuat planning awal untuk
memberdayakan kekurangan pada anaknya, menganggarkan budget yang berlipat
lipat, membangun pemahaman dari awal terhadap masalah psikologis dan emosional
anak, dan lain lain.
Sedangkan kerugian
saat nanti adalah, manakala orang tua gagal membangun pemahaman tersebut, anak
tidak ridho dan melakukan pembangkangan atau perbuatan perbuatan tak terduga (
misalnya bunuh diri, dll... ), Maka tanggung jawab orang tua di akhirat akan
lebih berat lagi....
Maka berhati
hatilah bagi orang tua dan calon orang tua, dalam menyikapi perilaku anak.
Terlebih, untuk masalah hukuman....
0 komentar:
Posting Komentar